Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Pendidikan
Jogjakarta selalu dihatiku (Serial tulisan kedua)
Selasa, 09 Nopember 10 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Dengan berjalan membungkuk menahan rasa malu, puluhan ribu tentara Jepang berkumpul di tempat-tempat penampungan sementara pada pelabuhan-pelabuhan Balikpapan, Ujungpandang, Palembang, Jakarta, Semarang, dan Surabaya, pada akhir September 1945. Tentara-tentara Jepang tersebut menunggu kapal-kapal yang akan membawa mereka pulang ke negerinya. Jepang akhirnya menyerah kepada sekutu pada tanggal 2 September 1945 diatas kapal USS Missouri, setelah bom atom diledakan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki sebulan sebelumnya.

Tanpa meminta izin pemerintahan Soekarno-Hatta, yang telah memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, sekutu dengan menggunakan perjanjian Wina, merangsek masuk ke Indonesia untuk mengambil alih peran para penjajah Jepang. Pasukan sekutu dibawah pimpinan Lord Louis Mountbatten, selaku South East Asian Command, menyerbu Pulau Jawa lewat kota-kota Jakarta, Semarang, dan Surabaya pada bulan September dan Oktober 1945.

Soekarno-Hatta beserta para pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang sudah diubah namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, memutuskan untuk mempertahankan kedaulatan, melalui peperangan terbuka. Di Jawa Timur, kekuatan sekutu dihadapi dengan pertempuran di jalan-jalan kota Surabaya, pada awal bulan November 1945. Di Jawa tengah, pasukan sekutu pada awalnya diterima dengan baik oleh Gubernur Jateng Wongsonegoro, karena Sekutu berjanji tidak akan menggangu kedaulatan RI. Tetapi ternyata setelah sampai di Magelang, tentara sekutu menunjukan niat aslinya dan bertindak seperti layaknya para penjajah. Kolonel Sudirman, pimpinan TKR Divisi Banyumas, akhirnya menerapkan taktik yang akan melejitkan kariernya. Ia berhasil memukul mundur pasukan Sekutu sampai ke Ambarawa, dan kemudian menerapkan strategi Supit Urang (Jepitan udang) untuk menjebak dan menjepit tentara sekutu pada tanggal 12 Desember 1945.

Karena pasukan TKR di Jawa Tengah relatif kuat dan keamanan di ibukota Jakarta semakin memburuk, Soekarno-Hatta, atas undangan Sri Sultan HB IX, akhirnya memutuskan untuk berpindah ke kota Jogjakarta pada tanggal 4 Januari 1946. Untuk berpindah, mereka  menggunakan kereta api dengan singkatan KLB (Kereta Luar Biasa), sebuah rangkaian gerbong kereta khusus dengan jadwal yang khusus pula. Kepindahan Soekarno-Hatta ke kota Yogyakarta, sekaligus juga memindahkan ibukota Republik Indonesia, dan meninggalkan Sjahrir beserta kelompok yang pro-negosiasi di Jakarta.

Kepindahan ini juga merupakan tindak lanjut dari strategi Soekarno untuk menghadapi Belanda. Sebagaimana diketahui, pimpinan Belanda, van Mook, telah menyatakan bahwa ia tidak mau berunding dengan Soekarno. Gelagat ini sudah terbaca oleh Soekarno, oleh karena itulah pada tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan meminta Sutan Sjahrir (duduk di kiri) yang seorang sosialis, untuk memimpin kabinet parlementer dan terus bernegosiasi dengan Belanda. Sjahrir dianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatik. Inilah strategi “Bad cop” (Soekarno) dan “Good cop” (Sjahrir) yang dimainkan secara cerdik oleh keduanya, untuk memperoleh kedaulatan Republik Indonesia secara de Facto maupun de Jure.

Dari Kota Jogjakarta-lah, Soekarno-Hatta dalam lindungan Sri Sultan HB IX, dan juga penjagaan Tentara Keamanan Rakyat yang antara lain dipimpin oleh Soedirman, melakukan perlawanan.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=277