Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Migas
Untuk pertama kali, para insinyur indonesia bersatu padu, membangun pipa dibawah laut
Minggu, 01 Nopember 09 - by : Triharyo Soesilo

"Delivery of Oyong Phase-2 production is an important milestone for Santos and our Indonesian base business," pidato Santos Chief Executive Officer David Knox di berbagai berita online beberapa hari yang lalu. Proyek Oyong Phase-2 mencakup modifikasi beberapa fasilitas di platform Offshore dan juga pemasangan pipa dibawah laut sepanjang 60 km dari Oyong, Sampang (dekat Pulau Madura), ke sekitar Grati, Jawa Timur (lihat foto).

Namun ada satu hal, yang mungkin tidak diketahui oleh David Knox, dan juga oleh banyak pihak, bahwa perancangan serta pemasangan pipa sepanjang 60 km tersebut, sepenuhnya dilakukan oleh putra-putri Indonesia, untuk pertama kali dalam sejarah bangsa ini. Salah satu hal yang menarik, sebagian besar penanggung jawab proyek implementasi ini (dari sisi pelaksana), adalah para insinyur Indonesia, khususnya para alumni ITB. Berikut ini rincian yang bisa saya share :

  • Proyek pemasangan 60 km pipeline ini ditenderkan secara internasional dan akhirnya yang lulus teknis hanya 3 (tiga) peserta dengan harga berikut :

  1. Rekayasa industri (Indonesia)  = US$. 31,723,458 (20 % lebih murah dari ranking no:2)
  2. Punj Lloyd  (India)                  = US$. 39,650,000
  3. Global Pacific (USA)              = US$. 58,456,065

  • Engineeering proyek pemipaan ini dilaksanakan sepenuhnya oleh sebuah perusahaan Engineering Indonesia yang bernama PT Enerkon. Perusahaan ini dipimpin oleh Bambang Nugroho Giat, alumni ITB jurusan Teknik Mesin angkatan 1982. Ia memimpin banyak insinyur di perusahaan ini dan sebagian besar juga alumni ITB.
  • Seluruh pipa dibuat di Indonesia dari berbagai perusahaan, dan juga diberi coating beton di Indonesia.
  • Kapal yang digunakan untuk memasang pipa adalah kapal berbendera Indonesia dengan nama DMB-88. Kapal ini dimiliki oleh pak Halim, bukan seorang alumni ITB dan bahkan bukan seorang insinyur, tetapi ia mempunyai 3 putra-putri alumni ITB yang terjun di bisnis offshore.
  • Juga survey bawah laut untuk proyek ini dilakukan sepenuhnya oleh perusahaan Indonesia PT Pageo, yang dimiliki oleh seorang alumni ITB yang bernama Sobrie Alwie. Ia adalah alumni ITB dari Geodesi angkatan 1977. PT Pageo adalah sebuah perusahaan lokal yang tumbuh secara meteorik, karena menekuni dan mendalami bisnis Pelaksanaan Survey dibawah laut (Offshore).
  • Team inti proyek ini di PT Rekayasa Industri juga sebagian besar para alumni ITB, tentunya bekerja sama dengan banyak Insinyur Indonesia dari pergururuan tinggi lainnya. Inilah team proyek ini yang memperoleh pendidikan di ITB :

  1. Direktur penanggung jawab= Ali Suharsono (Teknik Planologi 1974)
  2. Direktur Proyek                =  Michael Damanik (Teknik Mesin angkatan 1985)
  3. Project Manager               = Bekti Yulianto (Teknik Sipil angkatan 1983)
  4. Deputy Project Manager   = Sudayat (Teknik Sipil angkatan 1987)
  5. Project Control Manager  = Agus Sigit (Teknik Sipil angkatan 1988)
  6. Lead Pipeline engineer      = Arif Hary (Teknik Mesin angkatan 1999)
  7. Lead Civil engineer           = Fitriany (memperoleh S-2 di ITB bidang sipil pada tahun 2002)
  8. Lead Material specialist    = Ismail Saleh (Teknik Material angkatan 2000)

Bravo kepada para insinyur Indonesia dan para alumni ITB yang mulai memasuki bisnis Offshore (bisnis di lepas laut dan dibawah laut). Tidak lain, para alumni ITB serta para insinyur Indonesia yang terjun di proyek ini, memohon doa rekan-rekan semua, semoga pipeline ini dapat teruji dengan baik selama masa beroperasi berpuluh-puluh tahun kedepan. Amien. Demikian sharing kami

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=209