Untitled document
Besok lusa, Jumat 17 Agustus 2012 adalah hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-67. Siklus waktu telah berputar sedemikian rupa sehingga Hari Kemerdekaan tahun ini, jatuh pada hari Jumat dan juga terjadi pada bulan Ramadhan. Kejadian ini persis seperti kejadian 67 tahun yang lalu.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, berikut ini adalah dialog yang terjadi di Rengasdengklok dari buku Lasmidjah Hardi, “Perdjalanan Tiga Zaman” (foto dikanan). Dimana dialog ini sudah menjadi acuan resmi banyak para ahli sejarah dan juga dicetak dalam dokumentasi resmi pemerintah tentang detik-detik lahirnya Proklamasi. Saya share bagi rekan-rekan ITB77 yang mungkin belum sempat membacanya.
Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta
Pukul 04.00 dinihari, tanggal 15 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa oleh sekelompok pemuda ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan juga Guntur, yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, dibawa serta oleh Bung Karno.
Sepanjang hari, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda adalah untuk menekan Dwi-tunggal, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan dan melepaskan diri dari penjajah Jepang. Namun rupa-rupanya upaya para pemuda tersebut tidak membuahkan hasil. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya, seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta. Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja, khususnya mengenai kapan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kedua pemimpin tersebut, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri.
Dialog bersejarah di sebuah pondok bambu
Di dalam sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadilah perdebatan panas antara para pemuda dengan Bung Karno, yang akhirnya menentukan sejarab bangsa Indonesia ;
”Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. Sukarni menekan (foto dikiri)
” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua yang berada di pondok tersebut terkejut, tidak seorang pun yang bergerak ataupun berbicara.
Waktu suasana menjadi tenang, Bung Karno kemudian duduk kembali.
Dengan suara yang rendah, Bung Karno mulai berbicara lagi ; ”Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah penentuan saat yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 “. Bung Karno melanjutkan
Sukarni kemudian bertanya ”Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 siang ?”
Inilah jawaban Bung Karno, yang kemudian nantinya melahirkan hari Kemerdekaan Indonesia
”Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.
Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok adalah hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Jelas Bung Karno
Selanjutnya adalah sejarah.
Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok, sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi dalam bukunya (1984:61).
Salam
Hengki
kirim ke teman |
versi cetak