Wall street journal menyatakan pemerintahan Indonesia "koma"
Sabtu, 02 Juni 12 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 2055 hits
Untitled document
Kemarin Jumat sore saya bertemu dengan pak Suharya, pemilik perusahaan pengekspor batubara PT Baramulti. Ia mengeluhkan pajak 20% ekspor Batu bara yang rencana akan dikenakan oleh pemerintah Indonesia membuat daya saing produk batu baranya semakin sulit untuk bersaing di pasar China. Pada hari yang sama, Jan Bartak pimpinan GDF Suez, perusahaan yang memiliki PL:TU raksasa Paiton-1 dan Paiton-3, merasakan semakin sulitnya mengembangkan investasi di Indonesia. Otonomi daerah dan juga masyarakat yang semakin berani dalam mengambil alih kepemilikan tanah, membuat kepastian investasi semakin sulit. Jan bertanya ke saya kenapa Polisi terlihat semakin khawatir untuk bertindak. Apakah karena Polisi ragu-ragu dengan masalah-masalah HAM atau memang mereka terlibat didalam konflik tersebut, tanya Jan. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
Bagi banyak pihak, perekonomian Indonesia sering di-istilahkan dengan pengelolaan secara ”auto-pilot”. Pihak yang menanggapinya positif, berarti Indonesia dikendalikan secara canggih. Sedangkan yang negatif, mengkonotasikannya sebagai perekonomian yang tidak diurus. Tapi menurut Wall Street Journal, Indonesia bisa menyerupai apa yang disebut Rajeev Malik, seorang ekonomi senior di Sngapore, ”memasuki masa pemerintahan sedang koma” sebagaimana yang sedang terjadi di India. Ciri-ciri yang telah terjadi di India, nampaknya sedang mewabah ke Indonesia. Berikut ini beberapa indikasinya, seperti impor mengalahkan ekspor, pemerintah sudah tidak mampu mengendalikan pengeluaran, sulit melaksanakan investasi, sulit membangun infrastruktur, melemahnya mata uang dll. Pemerintah kemudian hanya ”bangun dari koma”, untuk melakukan kebijakan-kebijakan proteksionis, seperti mengenakan pajak pada ekspor CPO, mengenakan pajak pada ekspor bahan tambang, membatasi kepemilikan asing pada perusahaan perbankan dll.
Peringatan diatas perlu dicermati, sehingga kita semua, dimanapun kita bertugas, tidak mengalami ”koma”. Karena motor-motor ekonomi dunia saat ini sedang melambat :
Eropa tidak perlu diceritakan lagi kesulitannya. Hutangnya sudah bertumpuk-tumpuk
Data pengangguran di Amerika masih belum menggembirakan. Hutang Amerika belum terkendalli