Minggu, 01 April 12 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1748 hits
Untitled document
Setelah Michael Aris, suami Aung San Suu Kyi di deportasi dari Birma pada akhir tahun 1988 (lihat foto), oleh pemerintah Junta militer Jendral Saw Maung, kondisi ini memaksa Suu Ky Kyi untuk akhirnya berjuang sendiri. Ia kemudian membentuk partai politik yang bernama National League for Democracy (NLD), dengan symbol yang merepresentasikan dirinya, yaitu seekor burung Merak cantik yang sedang merangsek maju untuk bertarung (fighting peacock). Partai ini langsung menghadapi perlawanan keras dari Pemerintah Junta militer. Suu Kyi dan banyak pengikutnya mengalami berbagai macam percobaan pembunuhan. Upaya represif pemerintah Junta Militer tidak berhasil meredam NLD, karena partai ini akhirnya berhasil memenangkan Pemilu pada tahun 1990 dengan memperoleh 59% suara dan mendapatkan 80 % kursi di Parlemen.
Namun bukannya Suu Kyi memperoleh jabatan Pimpinan negeri Birma dengan mayoritas kursi di Parlemen, pemerintah Junta Militer justru membatalkan hasil Pemilu. Suu Kyi-pun justru memperoleh hadiah perpanjangan masa tahanan rumah. Tentunya banyak negara memprotes kejadian ini, tetapi pemerintah Junta Militer tetap bergeming. Salah satu hal yang sangat luar biasa adalah bahwa kemenangan Pemilu oleh partai NLD, dilakukan koordinasinya oleh Suu Kyi yang sedang ditahan didalam rumahnya, di jalan University Avenue. Karena sejak 20 Juli 1989. Suu Kyi telah menjalani penahanan di rumahnya. Ia nantinya secara total akan mendekam selama belasan tahun di dalam penjara dan juga menjalani tahanan rumah.
Michael yang terputus komunikasinya dengan Suu Kyi, hanya bisa mencari informasi dari para pejalan kaki yang melewati rumah di University Avenue dan mendengar alunan musik piano yang dimainkan oleh Suu Kyi. Berita-berita seperti ini adalah satu-satunya pelepas kerinduan Michael tentang keberadaan Suu Kyi. Berita tentang suara alunan piano memberikan semangat kepada Michael, bahwa Suu Kyi masih hidup Ia mencoba mengirimkan buku-buku untuk dibaca oleh Suu Kyi. Namun, nampaknya buku-buku tersebut banyak yang disensor dan dibuang oleh pemerintah Junta Militer. Suu Kyi-pun kemudian hanya bisa melewatkan waktu dengan bermeditasi dan belajar agama Budha, khususnya setelah piano di rumahnya rusak akibat kelembaban yang berlebihan. Hilangnya suara piano dari dalam rumah Suu Kyi membuat Michael di Inggris menjadi sangat khawatir.
Khawatir dengan keadaan Suu Kyi, Michael-pun berupaya keras untuk mencari dukungan internasional agar Suu Kyi bisa dibebaskan. Sehingga pada tahun 1991, ia mengambil inisiatif untuk mengumpulkan seluruh informasi tentang perjuangan Suu Kyi dan mengirimkannya kepada panitia Hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah tersebut akhirnya diterima oleh Michael beserta kedua anak lelakinya pada tahun 1991 (lihat foto). Pemberian Nobel Perdamaian ini memberikan sorotan internasional kepada pemerintah Junta Militer untuk mulai melakukan reformasi dan memaksa agar Suu Kyi dibebaskan.
Sehingga pada tahun 1995, tiba-tiba berderinglah telpon di kediaman Michael Aris di Inggris, dari Suu Kyi yang sedang berada di kedutaan besar Inggris di Myamar (Birma berubah menjadi Myanmar pada tahun 1990). Suu Kyi dengan gembira menyatakan bahwa ia sudah dibebaskan dan Michael beserta anaknya diperbolehkan datang. Menurut telpon Suu Kyi, pemerintah Myanmar bisa memberikan visa kepada Michael untuk jangka waktu pendek mengunjungi Myanmar. Dengan bergegas, Michael dan kedua anaknya segera berangkat ke Myanmar untuk menemui istri dan kedua ibu mereka. Tetapi yang mereka temui, bukanlah lagi seorang istri dan ibu dari kedua anak-anaknya. Tetapi seorang pimpinan pergerakan yang sudah mem-”baja” hatinya, akibat ditahan selama ber-tahun-tahun. Michael mengekspresikan perubahan Suu Kyi sebagai “a fully politicized woman whose years of isolation had burnished her political resolve into steel”. Suu Kyi rupanya sudah bertransformasi.
Pada tahun 1998, Michael yang sudah kembali ke Inggris terserang penyakit kanker yang mematikan. Ia ingin sekali kembali ke Myanmar untuk bisa mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya. Namun pemerintah Myanmar menolak 30 kali permintaan visa dari Michael. Para pimpinan dunia seperti Pope John Paul II dan Bill Clinton menghimbau kepada Pemerintah Myanmar agar Michael Aris bisa diberikan visa untuk menemui istrinya. Tetapi pemerintah Junta militer tetap tidak mau memberikan visa kepada Michael. Mereka berdalih, bahwa bila Suu Kyi yang ingin menemui suaminya di Inggris, maka ia akan diizinkan dengan senang hati. Tetapi Suu Kyi-pun tahu, bahwa bila ia meninggalkan Myanmar maka Pemerintah Junta militer akan melarang dirinya untuk masuk kembali ke negeri kecintaannya.
Dalam beberapa kali pembicaraan telpon yang terakhir, Michael-lah yang justru meminta Suu Kyi untuk tidak meninggalkan Myanmar. Michael meminta Suu Kyi untuk terus berjuang di Myanmar bagi rakyatnya. Setelah Suu Kyi menyadari bahwa ia tidak mungkin lagi bertemu dengan Michael Aris, maka ia memutuskan untuk merias dirinya secantik-cantiknya dan menaruh bunga mawar dirambutnya. Ia kemudian pergi ke kedutaan Inggris untuk merekam video perpisahaan, yang diperuntukkan khusus bagi suaminya. Video tersebut kemudian diselundupkan ke Inggris agar bisa dilihat oleh Michael.
Namun video perpisahan yang dikirimkan oleh Suu Kyi kepada Michael, diterima di Inggris beberapa hari setelah Michael meninggal. Michael tidak pernah sempat melihat lagi istrinya yang cantik dan mendengar kata-kata perpisahan dalam video tersebut.
Salam Hengki
Epilog : Setelah berpuluh-puluh tahun berjuang, hari ini (1 April 2012) diberitakan di banyak media internasional bahwa Aung San Suu Kyi, nampaknya memenangkan pemilu di Birma.