Minggu, 01 April 12 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1344 hits
Untitled document
Demonstrasi berdarah di Birma yang dimulai tanggal 8 Agustus 1988, kemudian dikenal dengan nama “Pergerakan 8888”, melejitkan Aung San Suu Kyi sebagai sebuah “icon”. Padahal hanya beberapa bulan sebelumnya, ia adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sibuk memasak dan membersihkan rumahnya. Suu Kyi tiba-tiba menjadi seorang pimpinan pergerakan dari ratusan ribu mahasiswa, ribuan biksu, anak-anak, ibu-ibu rumah tangga dan juga para ilmuwan yang bersatu-padu berdemonstrasi memprotes kegagalan Pemerintahan Jendral Ne Win. Sebagaimana diketahui, Birma pada tahun 1988 dinobatkan oleh PBB, sebagai negara yang paling terbelakang di seluruh dunia.
Melihat istrinya tiba-tiba menjadi tokoh nasional di Birma, Michael Aris, sang suami, dan juga kedua anak lelakinya, langsung kembali dari Inggris. Suami dan kedua anak Suu Kyi, kemudian bahu-membahu membantu istri dan ibu mereka tercinta. Michael-lah yang ber-inisiatif untuk pergi ke kedutaan Inggris untuk memfoto-copy brosur-brosur pamphlet kampanye Aung San Suu Kyi. Semua kegiatan ini dilakukan Michael dengan cara bersembunyi-sembunyi, karena mata-mata Jendral Ne Win ada dimana-mana. Rumah kediaman mereka selalu digunakan menjadi tempat pertemuan tertutup para aktivis dan tokoh pergerakan. Michael terus berupaya membesarkan hati Suu Kyi disaat-saat awal pergerakan, dengan misalnya ikut membantu menuliskan pidato Suu Kyi dan mengantakannya menaiki podium, untuk pertama kali berpidato di depan sekitar 500.000 rakyat Birma.
Pidato-pidato Suu Kyi menjadi legendaris dan tetap bergaung hingga kini. Berikut ini beberapa kutipan dari pidatonya “Bukanlah kekuasaan yang menghasilkan korupsi. Tetapi ketakutan terhadap hilangnya kekuasaan-lah, yang menyebabkan korupsi meraja lela”. Pidato lainnya, “Salah satu hal yang mengagumkan adalah, betapa pimpinan sebuah Negara terkadang sudah tidak tahu lagi apa yang diinginkan dan apa yang menjadi penderitaan rakyatnya”.
Berkat gempuran demonstrasi yang bertubi-tubi, Jendral Ne Win akhirnya pada tanggal 18 September 1988, diturunkan melalui kudeta oleh Jendral lain yang bernama Saw Maung. Banyak tulisan sejarah yang menyatakan bahwa Saw Maung dan Ne Win, sebenarnya hanyalah bermain sandiwara untuk meredam demonstrasi yang sedang merajalela. Ternyata Saw Maung jauh lebih kejam dari Ne Win. Beberapa jam setelah menduduki kekuasaan, ia langsung menyatakan kondisi negara dalam keadaan darurat. Dalam 1(satu) minggu sekitar 1000 biksu dan mahasiswa dibunuh. Dengan mudah ia menembaki dan membunuh 500 orang mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di depan kedutaan Amerika. Video kebrutalan ini sempat dibuat oleh seorang Amerika dan tersebar di internet. Saw Maung, cukup berkomentar ringan, bahwa para mahasiswa tersebut adalah “maling”. Pada akhir September 1988, diperkirakan 3000 orang meninggal terbunuh dan ribuan lainnya hilang. Pada akhir September 1988, Pemerintah akhirnya mampu menguasai seluruh Birma dengan kekerasan. Diperkirakan sampai akhir tahun 1988, sekitar 10.000 orang telah ditembak mati untuk menindas pergerakan ini.
Disaat terjadinya pembunuhan massal dimana-mana, Aung San Suu Kyi terus berupaya mengirimkan pesan permintaan pertolongan ke seluruh dunia. Tetapi tidak ada satupun media televisi internasional dan juga satupun negara di dunia yang datang membantu. Bahkan pada suatu malam, datanglah beberapa jeep tentara yang berisikan pasukan bersenjata lengkap, memasuki rumah keluarga Suu Kyi. Dengan todongan senjata, mereka langsung merangsek masuk ke rumah dan mencari Michael Aris. Pimpinan tentara menyatakan bahwa visa Michael Aris sudah dicabut, dan ia harus meninggalkan Birma sekarang juga. Michael sempat bertanya, “apakah saya bisa mengepak pakaian saya”. Pimpinan tentara hanya menjawab, “anda diberi waktu 5 menit”. Dengan wajah tegar dan tanpa berusaha memeluk Michael, Suu Kyi dengan tenang mengantarkan Michael dalam kawalan beberapa tentara bersenjata. Suu Kyi tidak tahu apakah Michael akan ditembak atau dideportasi. Dari dalam mobil, Michael masih sempat melambaikan tangannya. Suu Kyi tidak ingin menunjukan kelemahannya, di depan para tentara Jendral Saw Maung, dan ia-pun tidak membalas lambaian Michael. Tanpa sepengatahuan Suu Kyi, sejak saat itu mereka akan berpisah sangat lama.
Walaupun telah menguasai negeri Birma dengan kekerasan, Jendral Saw Maung melakukan 2(dua) kesalahan perhitungan besar yaitu pertama ia menginisiasi adanya Pemilihan Umum pada tahun 1990. Kedua, Jendral Saw Maung tidak menyadari kekuatan cinta antara Michael dan Suu Kyi, yang nantinya terbukti akan sangat luar biasa, dalam tahun-tahun mendatang.