Untitled document
Sebuah misteri yang semakin hari semakin terjawab, dengan melihat peristiwa kebangkrutan yang terjadi di Yunani.
Kuntoro, Mentamben yang masih baru
Pagi itu Senin 4 Mei 1998, Kuntoro Mangkusubroto, Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben), duduk di ruang tunggu Bina Graha. Disampingnya duduk Giri suseno, mitranya di Kabinet Pembangunan VII, yang menjabat Menteri Perhubungan. Mereka berdua sedang menunggu untuk dipanggil masuk ke ruang kerja Presiden Soeharto. Kuntoro menerima informasi, bahwa rapat pagi itu akan membahas tentang kenaikan harga BBM.
Kuntoro yang memang baru 2(dua) bulan dilantik menjadi Mentamben, pagi itu mulai merasakan panasnya kursi jabatan menteri yang membidangi energi. Karena akibat krisis moneter yang melanda negara-negara Asia dan khususnya menerpa Indonesia pada November 1997, defisit APBN pada akhir April 1998 menjadi sangat mengerikan. Salah satu opsi untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia, adalah mengurangi subsidi BBM. Sementara di jalan-jalan demonstrasi menuntut terjadinya reformasi, sedang terus terjadi dimana-mana. Sampai 4 (empat) hari sebelumnya, yaitu pada Kamis 1 Mei 1998, Kuntoro masih berusaha memberikan penjelasan dan meyakinkan anggota DPR, dalam pertemuan setengah kamar, bahwa Pemerintah masih belum berencana menaikan harga BBM.
Jadi Senin pagi itu, sebenarnya Kuntoro hanya menyiapkan data-data perhitungan berbagai opsi kenaikan harga BBM dan nilai dampaknya terhadap penghematan subsidi, untuk dilaporkan ke Soeharto. Salah seorang staff yang menyiapkan perhitungan berbagai opsi kenaikan BBM tersebut, adalah Rachmat Sudibyo. Ia duduk di ruang tunggu Bina graha, saat kedua menteri Kabinet Pembangunan VII dipanggil masuk oleh ajudan, untuk memulai pertemuan dengan Presiden.
Apa yang terjadi kemudian dalam ruang di Bina Graha tersebut, akan merubah sejarah bangsa Indonesia untuk selama-lamanya.
Pertemuan di ruang kerja Presiden Soeharto, ternyata tidak berlangsung lama. Kuntoro dengan wajah agak terkejut keluar dari ruangan Presiden. Ia tampak tergesa-gesa berjalan cepat menuju kendaraannya. Sambil berjalan cepat Kuntoro menyampaikan kepada Rachmat Sudibyo bahwa Presiden baru saja mengambil keputusan. "Apa keputusan Presiden ?", tanya Rachmat dengan nada kaget. Kuntoro-pun menyampaikan bahwa Presiden telah memutuskan untuk menaikan harga dengan opsi kenaikan harga yang tertinggi, yaitu menaikan harga premium dengan 71 % (lihat table). Selain itu kata Kuntoro, harga Tarif Dasar Listrik-pun sudah diputuskan untuk dinaikan dan sekaligus Tarif kendaraan umum juga dinaikan.
"Tidak hanya itu". Kata Kuntoro kepada Rachmat Sudibyo, "Kita harus segera membuat keputusannya saat ini juga, karena akan diumumkan siang ini", kata Kuntoro bergegas memasuki kendaraanya. Dalam 2(dua) jam kedepan, untuk pertama kalinya dalam sejarah Pemerintahan orde baru, pengumuman kenaikan harga BBM akan dilakukan pada siang hari, Karena selama ini, pengumuman kenaikan harga BBM selalu dilakukan pada malam hari setelah acara Dunia Dalam Berita, dan berlaku sejak jam 2400. Selain itu, inilah untuk pertama kalinya Pemerintah Orde Baru menaikan harga BBM, tanpa berkonsutasi terlebih dahulu dengan para wakil rakyat di DPR.
Tentu saja para wakil rakyat di DPR, yang tampak semakin berani, langsung menolak keputusan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Keputusan itu dinilai, "Sepihak dan telah mengabaikan fungsi serta peran DPR". Sebagaimana dikemukakan secara terpisah oleh Ketua Fraksi PDI Budi Hardjono, Paskah Suzetta dari F-Karya Pembangunan, serta Ketua F-Partai Persatuan Hamzah Haz kepada pers. Banyak telepon ke Redaksi Kompas mengecam pengumuman kenaikan harga BBM pada siang hari, yang membuat kemacetan lalu lintas dan banyak pegawai menjadi tidak kebagian angkutan sampai malam hari.
Pada siang hari itu juga, mahasiswa di Medan, Bandung dan Yogyakarta serentak menyambut kenaikan harga BBM dengan demonstrasi besar- besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan, saat para demonstran terlibat bentrok dengan petugas keamanan.
Di Universitas Pasundan Bandung, misalnya, 16 mahasiswa menjadi luka-luka akibat terjadinya bentrokan fisik tersebut. Inilah korban terbanyak pertama, pada sebuah demonstrasi anti-Soeharto paska krisis moneter. Jatuhnya korban ini memicu jatuhnya korban-korban lain, dalam banyak kejadian anarkis pada bulan Mei 1998.
Misteri yang terjawab
Selanjutnya kita semua tahu bahwa Soeharto, akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Namun pertanyaan saya selama ini adalah kenapa Soeharto sepertinya terburu-buru mengumumkan kenaikan harga BBM, tanpa konsultasi dengan DPR dan juga untuk pertama kali mengumumkan kenaikannya pada siang hari. Sehingga terjadilah penggabungan kekuatan antara para demonstran yang menuntut reformasi, dengan kekuatan rakyat jelata yang memang semakin mengalami kesulitan secara ekonomi. Penggabungan kekuatan tersebut langsung mulai terjadi secara serempak sejak diumumkannya kenaikan harga BBM, yaitu yang terlihat pada demonstrasi tanggal 4 Mei 1998 dan kemudian demonstrasi yang jauh lebih besar pada 5 Mei 1998.
Setelah menyimak rangkaian kejadian di Yunani akhir-akhir ini, Indonesia di tahun 1998, mirip dengan negeri Yunani yang sedang mengalami kebrangkutan dan memerlukan suntikan dana dari IMF. Nampaknya keputusan Presiden Soeharto pada tanggal 4 Mei 1998, menunjukan adanya berbagai kemiripan dengan rangkaian kejadian di Yunani.
Sebagaimana diketahui, Indonesia saat itu meminta bantuan IMF, dengan suntikan dana segar sebesar US $ 43 milyar, untuk mengatasi krisis. Pada tanggal 4 Mei 1998 waktu Washington, Dewan Direksi IMF bakal memulai pembahasan masalah tahapan pencairan dana bantuan, yaitu pencairan sejumlah US $ 3 milyar kepada Indonesia dan akan diikuti pencairan US $ 1 milyar setiap bulannya. Namun tahapan pencairan ini memerlukan beberapa prasyarat dari Pemerintah Indonesia, yaitu antara lain Pemerintah harus mengurangsi beban subsidi dan juga mulai menerapkan reformasi.
Itulah antara lain, kenapa Soeharto tiba-tiba berbalik pada tanggal 2 Mei 1998, dengan menyatakan bahwa reformasi bisa dilakukan sejak saat itu juga, tidak harus menunggu 5 tahun kemudian atau baru 2003. Padahal sehari sebelumnya pada 1 Mei 1998, Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan, mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003. Untuk lebih menunjukan keseriusan Pemerintah Indonesia, Soeharto kemudian memutuskan untuk menaikan harga BBM pada tanggal 4 Mei 1998 dan juga berusaha mengumumkannya sebelum Dewan Direksi IMF berunding di Washington. Mengingat perundingan Dewan Direksi IMF akan dimulai sekitar jam 09:00 waktu Amerika Serikat atau sekitar jam 21:00 WIB, maka Soeharto bergegas untuk memutuskan kenaikan harga BBM dan menyampaikan ke publik, pada siang hari waktu Indonesia. Terpepetnya waktu dan juga kebutuhan segera akan suntikan dana segar, membuat Soeharto mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dulu dengan DPR, ataupun mempertimbangkan resiko-resiko lainnya.
Itulah analisa saya setelah membaca beberapa tulisan mengenai ini dan mengamati rangkaian kejadian di Yunani. Selain itu, menurut saya Indonesia saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi makro ekonomi Indonesia pada tahun 1998. Juga cadangan devisa dan kondisi keuangan negara saat ini, jauh dari kemiripannya dengan Yunani.
Salam
Hengki
kirim ke teman |
versi cetak