Batuan ini sepintas berbentuk seperti es batu, tetapi sebenarnya mengandung gas alam (Methane) di dalamnya. Sehingga bila es batu ini diberi percikan api, maka akan mengobarkan api yang cukup besar (lihat foto di kanan). Sehingga Methane Hydrates sering disebut juga ”Fire in Ice” (api dalam es batu)
Sebagaimana diketahui, sudah sejak lama para ilmuwan di seluruh dunia menyadari adanya gas alam yang terjebak di dalam batuan es.
Peta kemungkinan tersedianya cadangan tersebut dapat dilihat di kiri. Umumnya terjadi di daerah yang sangat dingin atau di laut yang sangat dalam. Sayang di Indonesia nampaknya belum terdeteksi adanya cadangan Methane Hydrates ini, karena mungkin cuaca negerinya yang tropis.
Lalu bagaimana memisahkan gas alam dari es batu ?
Para ilmuwan pada awalnya mencoba cara yang sangat sederhana, yaitu mengalirkan air panas 80C ke dalam sumur pengeboran sedalam 1.100 m, di lapangan Mallik, Mackenzie Delta, di Barat laut negeri Kanada. Cara ini terbukti sukses menghasilkan gas alam selama beberapa hari pada tahun 2002. Namun setelah dihitung-hitung, energi yang diperlukan untuk memanaskan air ternyata sangat boros, dan tidak impas dengan energi gas alam yang dihasilkan.
Cara ini terbukti sukses menghasilkan gas alam, pada tahun 2008 di lapangan yang sama. Sehingga dengan kesuksesan ini, upaya untuk memproduksi gas alam dari Methane Hydrate menjadi semakin mungkin (feasible).
Jepang bisa-bisa menjadi negeri yang mandiri energi
Dengan terjadinya kerusakan pada reaktor nuklir Fukushima, akibat gempuran ombak Tsunami pada Maret 2011, Pemerintah Jepang semakin mengakselerasi pengeboran di laut dalam, untuk segera memulai memproduksi Methane Hydrate sebagai alternative energi. Karena akhir-akhir ini, rakyat Jepang menjadi khawatir dengan pengoperasian pembangkit listrik bertenaga nuklir (PLTN) dan banyak menggunakan kembali pembangkit listrik menggunakan tenaga gas alam atau diesel ber-sulfur rendah. Banyak PLTN di Jepang, yang terpaksa dimatikan karena khawatir terhadap kehandalan dan keamanannya.
Di sisi lain hasil penelitian para ahli Jepang, di Palung Nankai (Nankai Trough) nampaknya memberikan prospek tersedianya cadangan gas alam dalam bentuk Methane Hydrates, sebesar 40 tcf. Sebuah cadangan gas alam, yang cukup untuk 12 tahun konsumsi energi negeri Jepang.
Perkembangan teknologi ini akan memutar-balik-kan tatanan para konsumen dan produsen energi selama ini, seperti yang pernah saya liput sebelumnya, yaitu dimana Amerika Serikat bisa-bisa menjadi net exporter energi, dan Jepang tidak perlu mengimport energi lagi. Itulah dampak dari perkembangan teknologi.