Senin, 30 Januari 12 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1984 hits
Untitled document
Terkadang bertahan-nya sang CEO di sebuah perusahaan, tanpa terasa semakin hari justru semakin memperburuk kondisi perusahaan tersebut. CEO sebagaimana manusia biasa, sering menjadi tidak fokus pada pekerjaannya, melupakan pelanggannya, dan yang paling parah adalah meremehkan kompetitornya.
Kejadian di perusahaan pengelola Blackberry, yaitu Research in Motion (RIM) pada minggu lalu, mungkin bisa menjadi sebuah pelajaran mengenai hal ini. Berikut ini adalah kronologi kejadian di perusahaan RIM, yang mencapai puncak kekisruhannya dengan mundurnya 2(dua) CEO, pendiri dan pemegang saham terbesar perusahaan tersebut, pada Senin 23 Januari 2012 yang lalu.
Kesuksesan Blackberry
Mike (Mihal) Lazardis (foto berambut putih) adalah putra seorang imigran Kristiani Yunani yang tinggal di Turki, dan terpaksa pindah ke Kanada, karena merasa tidak nyaman akibat adanya diskriminasi agama di Turki. Mike adalah seorang genius, innovator dan inventor. Pada bulan Maret 1984, saat ia masih kuliah di tingkat akhir, Mike mendirikan perusahaan RIM, karena telah berhasil menemukan teknologi untuk menuliskan text di layar Light Emitting Diode (LED). Pada tahun 1990, bisnis RIM mulai tumbuh dan mendatangkan pendapatan sekitar US $ 1 juta per tahun. Mike merasa RIM bisa lebih besar lagi, bila dibantu oleh seorang ahli pemasaran yang piawai. Maka masuklah Jim Balsillie (foto dikiri yang botak). Jim adalah seorang salesman ulung, yang sejak 10 tahun sudah berhasil menjual kartu natal secara door-to-door, menjadi sebuah bisnis yang sukses. Pada tahun 1997, RIM berhasil memasok interactive pager bagi perusahaan Telekomunikasi Amerika terbesar saat itu, yaitu Bell South. Nilai kontrak ini mencapai US $ 70 juta. Pager yang dipasok oleh RIM, untuk pertama kalinya bisa untuk mengirim dan menerima e-mail. Nilai Saham RIM kemudian langsung meroket setelah terjadinya transaksi ini.
Kedua pasangan, yang nantinya menjadi co-CEO dari RIM, kemudian menghasilkan teknologi paling spektakuler, yang pernah dihasilkan oleh negara Kanada. Sebagian besar dari kita kemungkinan besar menggunakan produk karya mereka, yaitu Handphone Blackberry dengan bentuk keyboardnya yang unik dengan jasa messaging yang mudah dan handal. Pelanggannya di seluruh dunia mencapai puluhan juta. Blackberry menjadi sangat terkenal karena handphone ini menjadi satu-satunya alat komunikasi yang bisa digunakan oleh rombongan Presiden Bush diatas pesawat Airforce One, untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka, setelah terjadinya serangan teroris pada tanggal 9 September 2001.
Handphone Blackberry juga digunakan oleh Obama saat ia memenangkan Pemilu Presiden Amerika Serikat pada tahun 2008. Sampai-sampai Obama meminta untuk bisa tetap menggunakan handphone ini, setelah ia menjadi Presiden. Hampir sebagian besar korporasi dunia, mewajibkan karyawannya (atau minimal para eksekutifnya) untuk memakai Blackberry agar bisa terus berkomunikasi, dimanapun mereka berada. Sehingga saham RIM (pemilik Blackberry) pada tahun 2008 pernah mencapai diatas US $ 148 per lembar, dengan kapitaliasi US $ 84 milyar.
Apa yang terjadi selanjutnya ?
Sejak tahun 2008 sampai tahun 2011, saham RIM turun terus. Bahkan tahun 2011, harga per lembar sahamnya turun secara drastis dari kisaran US $ 70 ke US $ 16 per lembar (lihat chart). Belum pernah terjadi, sebuah perusahaan teknologi jatuh harganya teramat keras (seperti sedang crash). Padahal saat ini bukan kondisi crash dan justru banyak perusahaan serupa, sedang tumbuh pesat. Kenapa hal ini bisa terjadi ?. Jawabannya terletak pada kegagalan CEO-nya.
Pertama – CEO yang kurang fokus. Setelah RIM semakin sukses, Mike Lazaridis kembali pada kecintaannya di usia muda, yaitu Fisika Teori. Sejak tahun 2007, ia mulai menghabiskan waktu dan mencurahkan dana di Perimeter Institute. Sebuah institusi yang tidak ada kaitannya dengan bisnis yang didalami oleh RIM. Sebaliknya Jim Balsillie, pada tahun yang sama di tahun 2007, semakin menggila untuk membeli team Hockey. Banyak waktunya terbuang untuk melakukan kegiatan ini. Jim juga menghabiskan waktu dan uangnya, di Blue sky institute. Sebuah intitusi yang melakukan kajian tentang tata kelola korporasi di era globalisasi. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan bisnis RIM.
Kedua – CEO yang meremehkan kompetitor. Sewaktu produk iPhone mulai diluncurkan, para CEO sangat meremehkan produk kompetitor dari Apple ini. Jim Balsillie menyatakan bahwa ”iPhone hanyalah sebuah produk di pasar yang sudah jenuh”. Ia bahkan berani meramalkan “keberadaan iPhone di pasar, nantinya hanya akan sangat kecil (vanishingly small)”. Kedua CEO RIM masih beranggapan bahwa touch screen tidak akan bisa mengalahkan keyboard entry yang selama ini dipakai Blackberry. Bahkan ketika aplikasi (Apps) semakin meraja-lela di iPhone dan Android, para pimpinan RIM masih menganggapnya sebagai mainan. Padahal terbukti Apps adalah kunci dari kesuksesan iPhone, iPad dan juga peralatan yang berbasis sistem operasi Android.
Ketiga – CEO yang tidak memperhatikan konsumen dan mitranya. Untuk mengejar ketertinggalan dari iPad, RIM mengeluarkan produk baru yang bernama Playbook (lihat foto dikanan). Sewaktu produk Playbook dari RIM keluar banyak yang berharap, bahwa Playbook tentunya mempunyai aplikasi Blackberry messaging yang terkenal, di dalamnya. Namun karena kedua CEO ini tidak memberikan kesempatan perusahaan telekomunikasi untuk menawarkan jasa paket data untuk Playbook, maka hampir semua mitra menolak bekerja sama dengan RIM untuk produk Playbook. Sehingga Playbook tidak menawarkan jasa messaging yang justru sangat terkenal di Blackberry. Selain produknya kurang bagus, konsumen semakin tidak berminat untuk membeli Playbook. Produk ini akhirnya gagal dan menumpuk di gudang RIM, karena tidak ada yang mau membeli walaupun sudah terus menerus di-discount harganya.
Jadi hampir semua analis pasar dan juga pelaku bisnis sepakat, bahwa kedua CEO RIM telah mengakibatkan semakin menurunnya kinerja dan nilai perusahaan. Namun bagaimana menggantikan mereka ?, karena kedua CEO tersebut justru menjadi pemegang saham terbesar dari perusahaan RIM. Cara yang dilakukan oleh para pemegang saham minoritas, untuk menggulingkan Mike Lazardis dan Jim Balsillie, ini sungguh sangat menarik. Mungkin lain kali, akan saya ulas dalam tulisan lain.