Menemukan jawaban - kenapa Amerika menempatkan 2500 marinir di Australia
Kamis, 26 Januari 12 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1540 hits
Untitled document
Jawaban tersebut tertuang dalam laporan terakhir yang dibuat oleh perusahaan minyak BP yang berjudul, “BP Energy Outlook 2030”. Laporan yang baru saja dikeluarkan minggu lalu menyatakan bahwa Amerika Serikat dalam beberapa dekade mendatang, tidak akan lagi memerlukan pasokan minyak bumi dan gas alam dari Timur Tengah.
Perkembangan ini karena penemuan teknologi Shale Oil dan Shale Gas dalam beberapa tahun terakhir ini telah membuat Amerika, semakin hari semakin mandiri energi. Walaupun memang teknologi fracking, masih dalam tahap penyempurnaan, tetapi dalam waktu tidak terlalu lama, kemampuan Amerika menjadi net eksportir minyak bumi dan gas alam, diprediksi akan menjadi sebuah keniscayaan. Tulisan ini pernah saya liput sebelumnya di bulan Juli 2010.
Apa dampak Geopolitik dari perkembangan teknologi ini ?.
Coba bayangkan, dimana Amerika Serikat dimasa mendatang, tidak akan lagi bisa disandera oleh organisasi produsen minyak bumi seperti OPEC, sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh OPEC sejak ”Oil price shock” pada tahun 1973. Amerika tidak akan lagi memfokuskan kekuatan militer dan diplomatiknya di Timur tengah, untuk ”menguasai” lapangan-lapangan minyak dan gas di kawasan tersebut. Kebijakan ini secara resmi telah disampaikan secara terbuka oleh Presiden Obama pada tanggal 17 Januari 2012 yang lalu. Prioritas Amerika pada tahun-tahun kedepan adalah memfokuskan diri di Asia, khususnya Asia timur dan Asia tenggara. Nampaknya Obama ingin terus menjaga agar negeri China terus bermain secara fair dan mengikuti aturan tatanan dunia dalam berkompetisi. Obama menghindar dari kata ”containment” atau upaya untuk mengurung China. Tetapi secara de Facto, itulah yang sekarang sedang dipersiapkan oleh Amerika, setelah mereka berhasil mengalahkan Al Qaeda.
Kekhawatiran hilangnya fokus negeri Paman Sam di Timur Tengah, memaksa negara-negara penghasil minyak seperti Saudi Arabia berupaya untuk mencari pasar baru bagi produk minyak bumi mereka. Saudi Arabia langsung berpaling ke China, India dan Indonesia. Dengan cepat, Perdana Menteri China Wen Jiabao pada 15 Januari 2012, langsung berkeliling ke Timur Tengah dan menjalin kerja sama dengan Saudi Arabia. Pada tanggal 17 Januari 2012, Pemerintah Saudi Arabia juga secara resmi menyampaikan bahwa mereka ingin menginvestasikan US $ 200 milyar untuk membangun kilang dan juga melakukan eksplorasi di China dan Indonesia.
Pengaruh tarik-menarik antara kekuatan Amerika Serikat dan China, pada calon pemimpin Indonesia dan juga kampanye Presiden RI 2014, akan semakin terlihat pada tahun-tahun mendatang.