Kamis, 29 September 11 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1632 hits
Untitled document
Malam ini saya menerima e-mail ajakan, dari para sahabat di luar negeri, untuk bergabung dalam organisasi yang bernama I-4. Bagi yang belum tahu, I-4 adalah singkatan dari “Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4)”. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan dan penelitian, dimana para anggota ilmuwannya berbasis di luar negeri. Salah satu kegiatan I-4 yang mendapat liputan media massa di Indonesia adalah penyelenggaraan International Summit pada 16 s/d 18 Desember 2010 lalu. Summit ini mencoba mensinergikan visi para ilmuwan yang berada di dalam negeri dengan para ilmuwan yang tinggal di luar negeri, untuk kemudian didorong menjadi project-project yang riil dan bermanfaat bagi Indonesia. I-4 telah bersinergi dengan berbagai organisasi dan para ilmuwan di dalam negeri, seperti mengadakan training untuk para dosen di kampus-kampus dan juga sedang mengembangkan pendidikan untuk para guru.
Sampai saat ini I-4 memiliki anggota sekitar 800 orang, yang terdiri dari para Professor dan Doktor yang bekerja di berbagai institusi, kampus, maupun perusahaan-perusahaan di luar negeri. Beberapa nama para ilmuwan yang bergabung di dalamnya antara lain, Prof. Dr. Ken Soetanto, Prof. Dr. Iwan Jaya Azis, Dr. Nelson Tansu, Dr. Khoirul Anwar, Dr. Taruna Ikrar, Dr. Andreas Raharso, Dr. Merlyna Lim, Dr. Johny Setiawan dll. Organisasi I-4 sangat ingin mengajak para ilmuwan Indonesia, dimanapun mereka berada, untuk bergabung memadu kekuatan. Silahkan kunjungi websitenya bila ingin bergabung atau ingin bekerja sama.
Setelah membaca kiprah para ilmuwan Indonesia di luar negeri, yang ternyata sangat banyak, saya melihat ada peluang besar untuk bersinergi, misalnya dengan perusahaan seperti Pertamina. Sebagai contoh, salah satu ilmuwan I-4 yang menjadi cover majalah terkenal di bidang Listrik dan Elektronika, EEWeb Pulse adalah Dr Taufik (foto dikiri). Rupa-rupanya Dr Taufik, sedang mencoba mengatasi salah satu kesulitan penggunaan energi listrik berbasis sinar matahari untuk daerah miskin.
Sebagaimana diketahui, listrik yang dihasilkan dari sinar matahari, melalu panel-panel sel surya, sifatnya DC (Direct Current). Sedangkan berbagai peralatan listrik di perumahan memerlukan pasokan listrik yang mensyaratkan AC (alternating current). Untuk mengkonversi dari DC ke AC, memerlukan peralatan tambahan dan juga hilangnya efisiensi. Penelitian Dr Taufik dengan DC House Project (lihat foto dikanan – Dr Taufik berkaca mata dengan baju lengan pendek kotak-kotak), mendapat liputan media cetak terkemuka di Amerika Serikat. Ia sedang berupaya untuk menggunakan langsung, arus listrik DC hasil pembangkitan dari panel sel surya, untuk kebutuhan di perumahan. Penelitian ini juga bekerja sama dengan banyak institusi di Indonesia maupun di luar negeri sebagai berikut :