Pangandaran sedang menjadi daerah "anarkis wisata"
Selasa, 06 September 11 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1748 hits
Untitled document
32 tahun yang lalu, sebagai seorang mahasiswa saya berkesempatan untuk mengunjungi pantai Pangandaran dengan menggunakan kereta api dari kota Bandung. Suasana cagar alam yang masih alami dengan pantai pasir putih yang sangat bersih, serta agak sepi, terpatri dalam ingatan saya. Dalam liburan lebaran kali ini, walaupun saya tahu bahwa pantai Pangandaran akan penuh, saya mengajak istri dan keluarga untuk mengunjungi kembali Pangandaran.
Namun ternyata hari-hari ini suasana di Pangandaran sangat mengagetkan saya. Karena berbeda dengan kota-kota tujuan wisata lainnya di Indonesia, Pangandaran hari ini adalah sebuah daerah tujuan wisata yang sangat tidak diurus, berantakan, dan kumuh.
Pangandaran hari ini adalah sebuah pantai yang tidak ada tempat sampahnya, apalagi upaya untuk membersihkan sampah. Sehingga sampah-sampah dari para pengunjung tersebar di hampir sepanjang pantai. Jalan-jalan-nya-pun sangat penuh sesak dengan sepeda, becak, sepeda motor dan mobil, mengakibatkan kemacetan yang jauh lebih parah dari kemacetan di Jakarta. Para penjual souvernir dan makanan memadati jalan-jalan dan berjualan sepanjang pantai tanpa diatur, merusak pemandangan pantai secara total. Hampir semua penjual, umumnya hanya menggunakan terpal-terpal plastik sementara yang sangat beragam dan kumuh untuk berlomba-lomba mendekatkan posisinya ke para pembeli, tanpa menghiraukan estetika maupuan keindahan. Namun di tepi pantai ada juga rumah-rumah mewah, yang menurut pengendara becak adalah milik pengusaha kaya Pangandaran. Rumah-rumah mewah ini merupakan tempat berliburnya para Bupati, Kapolres dll bila mereka berkunjung ke Pangandaran. Para tamu yang yang menginap di rumah-rumah mewah tersebut, pasti akan jauh dari hiruk pikuk kemacetan dan kesemrawutan pantai Pangandaran.
Karena rasa cinta pada Pangandaran, berikut ini beberapa saran terbuka saya kepada para pimpinan pemerintahan di Kecamatan Pangandaran, yang ada di Kabupaten Ciamis dan juga di Pemda Jawa Barat, khususnya yang mengelola daerah tujuan wisata Pangadaran :
Mohon upayakan arah jalan diatur searah untuk jalan Pantai barat dan juga searah untuk Jalan Pantai timur, seperti yang dilakukan di pantai Kuta. Insya Allah kemacetan bisa diatasi. Jangan hanya menyerap dana pemasukan dari para wisatawan ke Pangandaran untuk justru mengembangkan kota Ciamis, tetapi harap perbaiki jalan Pantai timur dan juga lebarkan jalan Pantai barat di Pangandaran.
Pada hari-hari libur, tutup lokasi jalan Pantai Barat yang mendekat ke Cagar alam dengan skema ala “car free day”. Dimana mobil dan motor di parkir jauh-jauh dari cagar alam. Sehingga kendaraan yang boleh lewat hanyalah sepeda dan becak. Upaya ini akan mengurangi polusi, menjadikan pengunjung lebih sehat dan tentunya menghidupkan bisnis penyewaan sepeda dan para tukang becak.
Minta para pengusaha kaya untuk menyumbangkan ribuan tempat sampah dan upayakan masyarakat mengorganisir dirinya untuk mengelola pembuangan sampahnya. Lihat contoh organisasi serupa di Lombok, di Bali ataupun bahkan di daerah tujuan wisata Sangkan hurip, Kuningan.
Para penjual souvenir dan makanan perlu untuk diatur seperti di pantai Ancol, pantai Kuta, pantai Sanur ataupun di Borobudur. Desain tempat jualan dibuat menarik dan alami. Para penjual-nya-pun dibuat untuk menjajakan produk yang beragam dari jenis makanan maupun jenis souvenirnya. Sehingga dapat menjadi sebuah atraksi tersendiri yang menarik bagi wisatawan.
Hidupkan kembali jalur kereta api ke Pangandaran, sehingga masyarakat bisa berkunjung menggunakan kereta api dan mengurangi jumlah kendaraan yang bakal memadati pantai Pangandaran. Adanya shuttle dari stasiun kereta api ke hotel, dan juga tranportasi sepeda serta becak di pinggir pantai, akan membuat wisatawan Pangandaran merasa lebih menikmati untuk berlibur di alam terbuka.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh para pimpinan di Kecamatan Pangandaran, Pemkab Ciamis, ataupun bahkan Pemda Jabar. Janganlah hanya menginap di rumah-rumah mewah milik para pengusaha kaya, di tepi pantai Pangandaran. Marilah mengurus daerah tujuan wisata yang sangat luar biasa indah ini, bagi kemaslahatan masyarakat luas. Saya mohon agar Pangandaran jangan di-hancur-kan, Jangan sampai Pangandaran dibiarkan menjadi daerah “Anarkis Wisata”. Rasanya bangsa Indonesia, bisa jauh lebih baik mengelola daerah tujuan wisata, dari yang ditunjukan oleh para pengelola daerah tujuan wisata Pangandaran.