Ketupat lebaran - Apa kata para Futurolog tentang masa depan kita
Selasa, 06 September 11 - oleh : Triharyo Soesilo | 0 komentar | 1944 hits
Untitled document
Saat-saat liburan panjang adalah waktu-waktu khusus bagi saya untuk membaca buku. Untuk tahun ini, saya tidak perlu lagi membawa buku-buku cetak, tetapi cukup menenteng Tablet Computer Galaxy Tab, yang berisi belasan buku elektronik (e-books) yang ingin saya baca. Bagi yang belum tahu cara praktis ini, silahkan baca tulisan sebelumnya. Tulisan ini merupakan rangkuman hasil bacaan beberapa buku selama liburan, dan merupakan hadiah Ketupat Lebaran dari saya kepada para sahabat, yang mungkin berminat membacanya. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan mohon maaf agak sedikit panjang dan mungkin sedikit berat.
Futorologi dan 3(tiga) pertanyaan saya Selama liburan lebaran tahun ini, topik yang ingin saya baca adalah tentang Futurologi. Sebagaimana diketahui, pada akhir Juli 2011, di depan para Futorolog dunia, Presiden SBY menyatakan dirinya bahwa ia ingin bergabung dan membuat club futorolog, bila nantinya ia pensiun (kok pensiun ?). Lalu putranya Agus Harimurti dengan para Futorolog, di Hotel Shangrilla, Jakarta pada Kamis 28 Juli 2011, menyampaikan paparan pada konferensi tentang Futorologi dengan tema "How the World will Change in the Next 30 Years: World Experts Talk about Global Trends and Force that will Sweep the 21st Century.".
Jadi pada liburan lebaran kali ini, saya mencoba mencari jawaban terhadap 3(tiga) pertanyaan berikut:
Bagaimana ramalan para Futurolog puluhan tahun silam dan bagaimana realisasi kenyataannya pada hari ini ?.
Apa dampak ramalan mereka dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya pada sebuah perusahaan kecil ?
Lalu yang mungkin lebih penting adalah, apa ramalan para Futrolog untuk puluhan tahun mendatang ?.
Bagi yang belum tahu, Futorologi bukanlah kemampuan indera ke-enam, untuk melakukan pen-“cenayang”-an tentang masa depan. Futorologi adalah sebuah sistematika ilmu yang mengamati kecenderungan berbagai kejadian pada hari ini, untuk memprediksi “3P dan 1W” atau kejadian-kejadian di masa depan yang bakal masuk kategori “Possible, Probable, Preferable”, ditambah dengan kategori “Wildcards”. Wildcard adalah kejadian yang sangat rendah probabilitasnya namun dapat sangat berdampak bagi peradaban manusia, bila benar-benar terjadi. Ahli-ahli ilmu Futorologi disebut Futorolog (futurist). Beberapa yang terkenal antara lain pasangan suami-istri Alvin dan Heidi Toffler, John Naisbitt, James Canton dll. Banyak negara dan juga korporasi dunia yang cukup tekun mempelajari dan menerapkan ilmu Futorologi dalam kebijakan mereka sehari-hari, contohnya adalah Korea Selatan, Singapore dan China.
Prediksi Alvin Toffler dan John Naisbitt puluhan tahun silam Bagi yang tidak mengikuti atau mungkin lupa, berikut ini snapshot pengamatan dan ramalan Alvin Toffler dari buku-bukunya yang saya sempat baca puluhan tahun silam. Di tahun 1970, jauh sebelum komputer pribadi dan internet mewabah, Alvin mengamati bahwa perekonomian dunia akan tumbuh dengan sangat pesat, sehingga mengakibatkan “Future Shock”. Berbeda dengan era puluhan tahun sebelumnya, setiap keluarga di seluruh pelosok dunia akan semakin sering berpindah-pindah, untuk menyesuaikan kebutuhannya. Sehingga misalnya pencetakan buku telpon (Yellow pages), akan menjadi sia-sia. Alvin kemudian menjabarkan fenomena ini lebih rinci lagi dalam buku berikutnya pada tahun 1980, yang ia beri judul “The Third Wave” (Gelombang Ketiga). Harap diingat bahwa buku ini diluncurkan beberapa tahun sebelum terjadinya revolusi komputer pribadi IBM PC.
Pada tahun 1980, Alvin mengamati bahwa dunia sedang memasuki Era Gelombang Ketiga (Third Wave), setelah melewati gelombang pertama yaitu Era Pertanian, dan Gelombang Kedua - Era Industrialisasi. Pada Gelombang Ketiga, menurut Alvin, dunia akan memasuki Era Informasi. Bukunya sangat rinci memberikan banyak sekali contoh. Salah satu contoh yang diutarakan Alvin adalah tentang nasib perusahaan industri manufaktur silet cukur (Gillette). Perusahaan ini semakin hari semakin dikendalikan oleh informasi dari para pedagang retail-nya, yang menyimpan data tentang jenis silet yang paling diinginkan konsumen. Produsen manufaktur tidak bisa lagi dengan serta merta memproduksi produknya secara massal, tanpa memperhatikan keinginan pasar. Alvin-lah yang memperkenalkan kata “Information Age”. Dalam era informasi, konsumen akan semakin berkuasa dan semakin memerlukan produk dan jasa, yang sesuai dengan keinginannya yang sangat spesifik (tailor made).
Kecenderungan beralihnya kekuatan kepada para konsumen (publik), dari tangan para produsen, semakin diperjelas oleh Alvin dalam bukunya ”Power Shift” yang ia tulis pada tahun 1990. Saat itu walaupun internet masih belum mewabah, tetapi Alvin sudah memprediksi bahwa nantinya, konsumen akan bisa membandingkan berbagai harga dari sebuah produk yang sama, dari banyak penjual. Dokter juga harus ekstra hati-hati, karena para pasien-pasiennya akan semakin pandai, akibat dari membaca banyak literatur tentang penyakit yang sedang dideritanya. Pada tahun 1982, John Naisbitt dalam bukunya ”Megatrend”, menulis prediksi yang hampir serupa. Menurut prediksi John, karena terjadinya pergeseran kekuatan ke arah masing-masing individu, maka negara dan juga korporasi akan cenderung berubah dari pola sentralisasi ke arah desentralisasi. Akan terjadi perubahan persaingan dari kompetisi lokal ke persaingan global (diperkenalkan istilah globalisasi). Demokrasi aktif (Participatory Democracy) akan semakin mengalahkan Demokrasi semu (kediktatoran). Itu semua diprediksi oleh para Futurolog, dengan melihat trend pada awal tahun 1980-an.
Bagaimana penerapan ilmu Futorologi pada sebuah perusahaan kecil di Indonesia ? Karena sejak remaja sempat membaca buku-buku tersebut diatas, maka pemikiran-pemikiran para futurolog tentang pergeseran ke arah Era Informasi, kecenderungan terhadap desentraliasi dan juga perlunya untuk lebih spesifik melayani keinginan konsumen (pelanggan), sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran saya di tahun 1990-an. Sehingga sewaktu diberi tanggung-jawab mengelola perusahaan, idea-idea tersebut melandasi banyak kebijakan saya. Namun pertanyaan saya saat itu adalah bagaimana cara menerapkan idea-idea tersebut pada sebuah korporasi, karena saya terus terang masih relatif agak bingung dengan teknisnya. Sampai akhirnya Bill Gates menulis buku larisnya yang berjudul, ”Business at the Speed of Thought” pada tahun 1999. Saking gembiranya menemukan “Eureka moment”, setelah selesai membaca buku tersebut, saya langsung membuat presentasi (silahkan download disini) kepada para pimpinan perusahaan dan juga mengusulkan proyek dengan nama ”Proyek Sistem Syaraf Digital”(silahkan download disini). Singkat kata, seluruh rekan-rekan di perusahaan sangat mendukung terhadap idea ini dan di kemudian hari, PT Rekayasa Industri mampu berkembang secara berlipat-lipat. Kesimpulannya, bila Futorologi dipelajari dan dimengerti, bisa berdampak sangat luar biasa.
Apa kata para Futurolog tentang masa depan kita ? Bila Futurologi memang penting, lalu apa kata mereka tentang masa depan kita ?. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mencoba membaca beberapa buku tulisan para Futurolog berikut yaitu “Revolutionary Wealth”, buku terakhir karya Alvin dan Heidi Toffler, “China’s Megatrend”, John & Doris Naisbitt dan “The Extreme Future”, karya James Canton. Pasangan Toffler dan pasangan Naisbitt tidak terlalu banyak menghasilkan pengamatan baru, kecuali memberikan penekanan dan pendalaman pada apa yang telah mereka tulis selama ini. Tetapi yang lebih spesifik dan bahkan lebih berani adalah James Canton. Menurut James dalam puluhan tahun mendatang akan terjadi konvergensi dari Nano-technology, Bio-technology, Information Technology dan Neuro-technology untuk mengatasi permasalahan-permasalahan energi, pangan dan kesehatan.
Jadi arah dunia di masa depan adalah terjun ke level atom dan molekul. Pada berbagai bab, pasangan Toffler dan Naisbitt juga mengulas tentang ini. Sebagai contoh, tanpa terasa saat ini di setiap rumah, hampir pasti ada chip computer yang terdiri dari triliunan transistor berukuran molekul, dan mampu melakukan 4 milyar kegiatan on-off switch setiap detiknya. Tantangan untuk mengkonversi kemampuan teknologi pada tatanan molekul dan atom tersebut untuk menjadi solusi permasalahan dunia, akan menjadi kecenderungan di masa mendatang. Menurut prediksi, industri Nano-teknologi akan tumbuh 100x lipat dalam 5 (lima) tahun dari US $ 10 milyard hari ini menjadi US $ 1 Triliun pada tahun 2015. Istilah-istilah jabatan di masa mendatang antara lain Nano-Bio entrepreneur, Biofuture therapist, Neuro-medical technicians, Cancer enablers dll. Mirip seperti jabatan-jabatan aneh para ahli teknologi informasi hari ini, yang belum kita kenal puluhan tahun yang lalu.
Setelah membaca buku-buku tersebut, saya langsung teringat akan sebuah paparan dari para teknolog Russia yang telah mengembangkan kilang minyak untuk membuat bahan bakar minyak dengan menggunakan teknologi nano-catalyst. Kilang tersebut ternyata bisa sangat jauh lebih kecil dan juga bisa jauh lebih murah untuk membuatnya. Setelah liburan lebaran, saya akan mengejar lebih jauh tentang penerapan teknologi ini. Silahkan kepada para ahli Nano-teknologi Indonesia untuk menghubungi saya. Terima kasih sebelumnya atas kontaknya.
Demikian sharing dan hadiah ketupat lebaran dari saya. Sekali lagi mohon maaf bila terlalu panjang dan juga mungkin sedikit berat untuk dibaca.